Dari koran ke layar, pergeseran media cetak ke media daring dan masa depan jurnalisme Indonesia.
![]() |
| Ilustrasi pembaca yang masih memanfaatkan koran dan juga layar (media daring) untuk memperoleh informasi. (Sumber: Pexels) |
fahflows - Indonesia tengah menghadapi revolusi dalam media jurnalistik. Media cetak, seperti koran dan majalah yang dulu menjadi pilar utama pemberitaan, kini kian terhempas. Sementara itu, media daring semakin mendominasi cara masyarakat mengonsumsi berita. Apakah media cetak akan sepenuhnya tergantikan oleh media daring, atau justru keduanya tetap berdampingan?
Konsumsi Berita
Pergeseran pola konsumsi berita di Indonesia semakin nyata. Dalam bukunya Media Cetak vs Media Online (Perspektif Manajemen dan Bisnis Media Massa), Eko Pamuji menjelaskan bahwa internet telah mengubah wajah industri media di Indonesia. Pola konsumsi masyarakat yang dulunya mengandalkan koran dan majalah kini bergeser ke media daring yang lebih praktis dan cepat diakses.
Data Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat, pada 2015 sedikitnya 16 surat kabar dan 38 majalah berhenti terbit. Beberapa di antaranya adalah media besar: Sinar Harapan, Harian Bola, Jakarta Globe, hingga Koran Tempo edisi Minggu.
Dalam buku tersebut, Eko menegaskan bahwa berita di surat kabar pada dasarnya adalah konten yang sudah basi. Peristiwa yang terjadi hari ini baru bisa dibaca keesokan harinya, berbeda dengan media berbasis internet yang mampu menyajikan informasi secara real time. Menurut penjelasannya, konsumen semakin cerdas dan menginginkan informasi hadir seketika. Dari sisi kecepatan, surat kabar tidak lagi mampu berkompetisi dengan media daring.
Meski demikian, Eko juga menyebutkan bahwa media cetak tidak sepenuhnya akan mati sia-sia. Kehadiran berbagai media daring memang mengubah kebiasaan pembaca, tetapi selera konsumen tetap menjadi rujukan utama dalam memilih sumber informasi.
Kekuatan dan Kelemahan
Budi Arista Romadhoni dalam jurnal Meredupnya Media Cetak, Dampak Kemajuan Teknologi Informasi (2018) menjelaskan bahwa tutupnya sejumlah media cetak, baik nasional maupun internasional, erat kaitannya dengan perkembangan teknologi informasi. Media cetak terbebani biaya produksi yang tinggi, sementara masyarakat semakin banyak beralih ke media daring.
Hasil survei Nielsen Consumer & Media View (CMV) 2016 di 11 kota Indonesia menunjukkan hanya 9% generasi muda yang masih membaca media cetak. Mayoritas beralih ke televisi dan internet. Data Nielsen kuartal II tahun 2017 juga memperlihatkan dominasi televisi (96%), media luar ruang (53%), internet (44%), radio (37%), sementara koran hanya 7%, dan tabloid serta majalah 3%.
Menurutnya, kelemahan media cetak terletak pada keterbatasan kecepatan dan fleksibilitas. Media daring unggul dengan penyajian real time serta format multimedia. Namun, ia mengingatkan bahwa media cetak masih memiliki kekuatan, yakni kedalaman analisis dan kredibilitas yang lebih tinggi dibanding berita daring yang sering menghadapi isu akurasi dan maraknya hoaks.
Bertahan atau Berpindah
Kondisi industri media di Indonesia juga tergambar dalam data Dewan Pers. Dengan asumsi terdapat 100 media di tiap kabupaten/kota, maka total media nasional bisa mencapai sekitar 51.000. Namun, hanya 1.485 media yang saat ini terverifikasi administrasi dan faktual di Dewan Pers. Jumlah itu terdiri atas 1.011 media siber, 60 televisi, 17 radio, dan 397 media cetak.
Dalam acara peluncuran hasil survei Dewan Pers bersama Universitas Multimedia Nasional (UMN) di Jakarta, Rabu (12/6/2024), Ketua Komisi Penelitian, Pendataan, dan Ratifikasi Dewan Pers, A. Sapto Anggoro, menyampaikan:
“Kita saat ini berada di era yang sangat mudah membuat media. Namun mumet untuk menghidupinya.”
Data tersebut juga menunjukkan ketimpangan distribusi media. Konsentrasi terbesar berada di Jawa dan Sumatera, sementara Indonesia Timur masih minim. Artinya, keberlangsungan media bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal pemerataan akses informasi.
Peneliti UMN, Dr. Ignatius Haryanto, menegaskan, “Dewan Pers patut mempertimbangkan moratorium perusahaan pers melihat adanya aktivitas-aktivitas perusahaan pers yang tidak sesuai Kode Etik Jurnalistik ataupun mulai meninggalkan produksi karya jurnalistik berkualitas.”
Langkah ke Depan
Menghadapi situasi ini, sebagian media memilih strategi ganda dengan memadukan format cetak dan digital. Kompas dan Tempo misalnya, tetap menerbitkan koran atau majalah fisik tetapi juga memperkuat platform daring melalui portal berita, aplikasi, hingga podcast.
Dalam bukunya, Eko Pamuji menilai salah satu strategi agar media cetak bertahan adalah dengan mengadopsi jurnalisme sastrawi atau long-form journalism. Dengan cara itu, media cetak bisa menawarkan nilai tambah berupa analisis yang mendalam—sesuatu yang sulit disajikan oleh media daring yang lebih menekankan kecepatan.
Sementara itu, Budi Arista menilai masa depan media cetak tidak sepenuhnya suram. Kecepatan memang menjadi keunggulan media daring, tetapi masalah akurasi justru membuka peluang bagi media cetak untuk tetap dipercaya sebagai sumber informasi yang lebih kredibel.
Masa Depan Jurnalisme
Masa depan jurnalisme Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pilihan antara koran atau layar, melainkan oleh kemampuan industri untuk beradaptasi. Sejarah menunjukkan bahwa setiap kali media baru hadir, media lama tidak serta-merta hilang. Radio tetap ada meski televisi muncul, dan kini koran masih bertahan meski internet mendominasi.
Prediksi perkembangan media jurnalistik di Indonesia menunjukkan bahwa media daring akan terus mendominasi. Namun, media cetak masih memiliki peluang bertahan dengan menekankan kualitas analisis, kedalaman liputan, serta kredibilitas sebagai nilai lebih di tengah arus informasi instan.
Tulisan ini telah dimuat sebelumnya di media daring Netralnews.com pada Sabtu, 4 Oktober 2025.

0 Komentar