Pahlawan di Terik Hari

(Dokumentasi Pribadi/fahflows)


fahflows - Kala itu angin pagi menyusuri tiap langkahnya. Ia nampak senang, karena akhirnya bisa keluar rumah lagi. Namun, bukan untuk jalan-jalan keluarga, melainkan menemani ayahnya yang ingin mengantarkan temannya ke bandara.

"Siapa saja yang mau ikut?" tanya ayahnya, berharap anak-anaknya berseru ikut.

"Akuuu!" ia tampak senang, seperti sudah menanti momen ini sekian lama.

Pagi Bersama Ayah

Ia segera mandi, memakai pakaian rapi, dan bersiap menuju kendaraan roda empat ayahnya. Ia senang menemani orang-orang yang ingin pergi. Walau hanya ke tempat yang dekat sekalipun, rasanya bisa menenangkan pikiran yang kian hari terasa tak karuan.

Setibanya di hotel untuk menjemput teman ayahnya, sambil menunggu temannya keluar, ayahnya sibuk mengeluarkan gawai dan kamera untuk berswafoto. Hal itu tidak begitu disukai anaknya.

Ayahnya menegakkan kamera sambil mengajak anaknya berswafoto. Nasib anak yang tidak begitu menyukai hal tersebut---mimik cemberut pun yang tertangkap di kamera.

Akhirnya, teman ayahnya keluar. Mereka segera bergegas menuju bandara. Jalan panjang khas bandara terasa mulus, seolah tak ada beban. Setibanya di sana, ayahnya masih senang melakukan swafoto, kali ini dengan senyum yang merekah.

Momen yang Tak Diharapkan

Sesudah mengantar teman ayah, mereka pulang. Belum lama berjalan, kejadian yang tak disangka pun datang. Kendaraan roda empat milik ayahnya tiba-tiba bocor bannya, di pinggir jalan panjang bandara, di bawah terik matahari yang menusuk.

Ayahnya mencoba memperbaiki ban seorang diri. Meskipun ada seseorang berseragam tak jauh dari mereka, ayahnya tetap berusaha sendiri terlebih dahulu. Melihat hal itu, anaknya disuruh menunggu di dalam mobil karena terlalu panas di luar.

Namun, anaknya tidak tinggal diam. Ia meneduhkan ayahnya dengan jaket, sementara sang ayah terus berusaha memperbaiki mobil.

Ayahnya sempat menyerah dan akhirnya menghampiri orang berseragam tersebut untuk meminta pertolongan. Orang itu ternyata menelepon orang lain---mungkin tukang reparasi mobil.

Namun, setelah berjam-jam menunggu dan orang itu tak kunjung datang, ayahnya yang selalu mampu melakukan segalanya, kembali mencoba memperbaiki mobilnya seorang diri.

Dan berhasil. Ayahnya berhasil memperbaiki mobil di tengah teriknya matahari, menunjukkan kepada anaknya bak seorang pahlawan dalam film-film yang sering mereka tonton bersama.

Camilan biskuit gandum berisi cokelat menjadi saksi panasnya hari itu. Cokelatnya sampai lumer tanpa perlu di-microwave.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah. Anak itu pun tertidur lelap sepanjang perjalanan.

Ayah itu adalah ayahku. Di rumah, aku memanggilnya Bapak. Aku menulis ini di tempat yang tak seharusnya, karena terlalu ramai, namun aku tak kuasa menahan air mataku. Jujur, aku malu ingin menangis.

Pak, apa kabar? Jangan lupa dateng ke mimpiku, ya!

Al-Fatihah.

Posting Komentar

0 Komentar