Gawai di Tangan, Budi Pekerti di Ujung Tantangan

Siswa Sekolah Dasar. (Ilustrasi: Syahrul Alamsyah Wahid/Unsplash)

 “Budi Pekerti adalah kemampuan kodrat manusia yang berkaitan dengan biologis dan berperan menentukan karakter seseorang” - Ki Hajar Dewantara

fahflows - Karakter bukanlah warisan sejak lahir, melainkan hasil pembentukan yang tumbuh seiring waktu. Jika sejak dini karakter anak tidak mencerminkan budi pekerti, bagaimana masa depan etika generasi bangsa? Jika budi pekerti tidak lagi menjadi prioritas, maka peran diri sendiri dan lingkungan sekitar perlu dipertanyakan. Bagaimana jika proses pembentukan karakter itu terganggu oleh kehadiran gawai yang terlalu dini? 


Pertanyaan-pertanyaan itu terus membayangi Ita, seorang guru Sekolah Dasar (SD) di kawasan Bogor. Kekhawatirannya bukan tanpa alasan. Survei tahun 2023 yang dilakukan di sejumlah sekolah dasar di Pulau Jawa mencatat, kepemilikan gawai pribadi pada anak-anak ternyata meningkat seiring dengan naiknya jenjang kelas. Di kelas 1, sekitar 8,7% siswa yang memiliki gawai pribadi. Namun, angka itu melonjak drastis di kelas 6, mencapai 82%.


Temuan UNICEF tahun 2023 juga menguatkan kegelisahan itu, 99,4% anak-anak Indonesia kini menggunakan internet rata-rata 5,4 jam per hari—sebagian besar dari rumah. Internet tak lagi sekadar alat bantu, tapi sudah menjadi ruang bermain dan tumbuh mereka.


Dalam ceritanya, Ita kerap menggambarkan suasana ruang kelas yang ramai oleh bisik-bisik dan tawa anak-anak. Di tengah keceriaan itu, ia menyadari sesuatu yang perlahan menghilang. Tiga kata ajaib yang dulu lumrah terdengar kini seolah bersembunyi, tak tahu kapan akan keluar. Kata-kata itu adalah: “maaf,” “tolong,” dan “terima kasih.” Ita mengaku, saat melihat anak-anak, ia tergerak untuk menanamkan kembali nilai-nilai budi pekerti pada mereka.


Ita bercerita menatap tiap-tiap bangku yang diduduki anak-anak, mencoba memahami tatapan-tatapan yang pasti memiliki arti berbeda-beda. “Anak-anak sekarang itu karakternya beragam. Ada yang aktif luar biasa sampai susah diatur. Ada yang diam saja, tetapi ternyata tidak paham. Ada juga yang seperti hidup di dunianya sendiri,” katanya, dengan nada tegas khas seorang guru.


Meski anak-anak tak membawa gawai ke sekolah, Ita tetap melihat jejaknya di keseharian mereka. Bukan dari kata-kata, tapi dari gerakan-gerakan kecil yang familiar. “Itu gerakan TikTok,” katanya pelan, sambil menirukan gaya tangan seperti ‘rock hand’, diikuti kepala yang menggoyang ke kanan dan kiri. Gerakan khas tren velocity di TikTok yang begitu digemari di berbagai kalangan zaman sekarang. Tanpa sadar, mereka membawanya ke ruang kelas.


Menurut Ita, fenomena ini tak terjadi sekali dua kali. Anak-anak sering melakukan gestur dari tren-tren tersebut, yang membuat mereka kehilangan fokus saat kegiatan belajar. Bahkan saat bercanda, mereka sulit mengendalikan diri.


Namun, Ita tak menyerah begitu saja. Baik dalam waktu belajar maupun di luar pelajaran, ia kerap memberikan pesan dan nilai-nilai moral. “Kadang lewat cerita, kadang saat ada materi Etika, saya langsung memberikan contoh. Saya minta mereka untuk mempraktikkan langsung, supaya tahu mana yang sopan, mana yang tidak.”


Perubahan tak datang secara instan—sebab mie yang dilabelkan sebagai ‘instan’ pun perlu melalui proses agar memiliki cita rasa terbaik. Ita percaya, sedikit demi sedikit, akan ada hasilnya. “Saat menjelaskan materi, mereka nurut. Tapi nanti ketika mereka lupa, ya kita ingatkan lagi,” katanya dengan penuh perhatian. “Yang penting mereka paham dulu kenapa harus sopan.”


Bagi Ita, budi pekerti jauh lebih penting dari sekadar nilai akademik. Budi pekerti perlu ditanamkan sejak dini agar kelak mereka tahu cara menghargai orang lain. Menurutnya, pelajaran akademik dapat disesuaikan seiring berjalannya waktu, tapi karakter? Tentu perlu diprioritaskan.


“Percuma pintar kalau tidak (punya) sopan santun, percuma pintar kalau tidak ada akhlaknya,” katanya, seolah ingin menegaskan kembali nilai yang ia pegang.


Harapannya sederhana, namun mendalam: supaya para orang tua juga ikut terlibat aktif dalam pembentukan karakter anak. “Jangan serta-merta diserahkan ke guru. Kami hanya bersama anak-anak saat kegiatan belajar mengajar, selebihnya, lebih banyak peran orang tua di rumah,” tegasnya, menyiratkan betapa besar harapan itu ia tujukan kepada para orang tua. 


Teknologi melaju kencang, bahkan sejak usia dini. Nilai budi pekerti menjadi penopang agar generasi bangsa tak kehilangan arah. Sebab karakter yang kuat bukan hanya soal kecerdasan, melainkan juga kesantunan yang dibentuk dari rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar.



Tulisan ini telah dimuat sebelumnya di media daring Klikwarta.com pada Minggu, 18 Mei 2025.

Posting Komentar

0 Komentar