![]() | |
|
Mengutip Children's Hospital Los Angeles, stres digital adalah tekanan mental yang muncul akibat interaksi negatif melalui media digital seperti email, pesan singkat, media sosial, ruang obrolan, dan forum daring. Faktor penyebabnya pun beragam, mulai dari pengawasan yang kurang sejak dini, hingga penggunaan media sosial yang berlebihan tanpa kendali.
Menurut jurnal berjudul “Tingkat Stres pada Gen Z terhadap Pengaruh Media Sosial” yang ditulis oleh Intan et al. (2024), setiap platform media sosial memiliki dampak berbeda terhadap stres, terutama di kalangan Gen Z. Instagram dan TikTok misalnya, mendorong perbandingan sosial karena dominasi konten visual yang menggambarkan gaya hidup menarik. Sementara platform seperti Twitter lebih memicu tekanan dari debat atau opini yang berseliweran. Tak heran, banyak orang terjebak dalam kondisi FOMO (fear of missing out)--rasa cemas karena takut melewatkan momen atau kesempatan penting. Mereka yang mengalami FOMO cenderung merasa harus terlibat dalam segala hal demi tidak tertinggal informasi atau tren terkini (Halodoc).
Bukan Salah Teknologinya
Tekanan dalam kehidupan nyata saja sudah cukup berat, apalagi ditambah tekanan dari dunia digital. Tapi tentu, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan teknologi. Perkembangannya tak bisa dihindari--kita justru harus berdamai dan beradaptasi secara bijak.
Alih-alih terus merasa terjebak, kita bisa membangun kebiasaan baru yang lebih sehat. Salah satunya dengan memaknai ulang interaksi digital. Misalnya, saat sedang fokus belajar atau bekerja, sebaiknya hindari membuka media sosial. Ini bukan hanya soal manajemen waktu, tapi juga menjaga fokus dan emosi.
Langkah selanjutnya adalah mencoba digital detox. Mengutip Binus Psychology, digital detox adalah periode waktu saat seseorang sengaja tidak menggunakan perangkat digital, termasuk gawai, TV, komputer, dan media sosial untuk sementara. Namun detox ini perlu dilakukan dengan perencanaan. Pastikan tanggung jawab utama sudah diselesaikan lebih dulu. Jika masih sulit untuk benar-benar mematikan gawai, cobalah mulai dari hal kecil, seperti mematikan notifikasi media sosial, mengatur jadwal khusus untuk mengaksesnya, atau menghapus aplikasi yang paling menyita waktu.
Terbukti Menurunkan Kecemasan
Mengutip Tempo.co, sebuah studi pada 2022 yang melibatkan 154 partisipan dengan rata-rata usia 29,6 tahun menunjukkan bahwa mereka yang berhenti menggunakan Facebook, Instagram, Twitter, dan TikTok selama seminggu mengalami penurunan kecemasan dan depresi secara signifikan. Mereka juga melaporkan peningkatan kesejahteraan.
Penelitian lain terhadap 555 mahasiswa menguatkan temuan tersebut--bahwa istirahat dari media sosial selama seminggu dapat menurunkan tingkat stres, terutama pada mereka yang cenderung menggunakannya secara berlebihan. Bahkan, studi terhadap remaja perempuan usia 10–19 tahun membuktikan bahwa rehat tiga hari saja bisa mengurangi rasa malu terhadap tubuh sendiri dan meningkatkan self-compassion atau kasih sayang terhadap diri sendiri.
Peran Keluarga dan Kesadaran Diri
Kita juga tidak bisa mengesampingkan peran orang tua. Pendampingan sejak dini, pemahaman tentang pentingya menjaga privasi dan ruang pribadi, serta edukasi tentang penggunaan teknologi, menjadi fondasi penting dalam membangun pola pikir positif terhadap media digital.
Pada akhirnya, teknologi akan terus berkembang bersama kita--bahkan mungkin lebih cepat dari yang kita bayangkan. Maka, berpikir positif bukan berarti menghindari teknologi, melainkan memilih untuk mengelola penggunaannya dengan bijak. Teknologi bukan musuh, justru bisa menjadi sahabat yang membantu kita menjalani hidup dengan lebih jernih--asal kita mampu menempatkan batas yang sehat.
Tulisan ini telah dimuat sebelumnya di media daring Netralnews.com pada Sabtu, 7 Juni 2025.

0 Komentar