![]() |
Suasana malam di Masjidil Haram dengan latar Menara Abraj Al Bait. (Dokumentasi Pribadi/fahflows) |
fahflows - Di tengah hiruk-pikuk Makkah--tempat yang menjadi cita-cita hampir setiap muslim, berlangsunglah ibadah yang bukan hanya fisik, tetapi juga batin. Setiap gerakan, ucapan, niat, bahkan isi hati, menjadi bagian dari komunikasi dengan Allah SWT. Maka, berpikir positif di tanah suci bukan hanya sikap baik, melainkan bentuk adab dan kepercayaan penuh kepada-Nya.
Mengutip laman Kementerian Agama (Kemenag), sebanyak 203.149 jemaah haji reguler Indonesia tahun 1446H/2025M telah tiba di Tanah Suci. Dari sekian banyak jemaah, satu hal pasti, setiap orang membawa pulang cerita dan pelajaran yang unik. Dan salah satu pelajaran paling halus tapi dalam adalah tentang mengelola pikiran di tengah segala keterbatasan.
Saat Pikiran Menarik Kebaikan
Seorang jemaah bercerita, saat ia melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah. Awalnya ia memilih menjaga jarak dari kerumunan karena takut, tapi tanpa sadar, langkah kakinya membawanya makin mendekat hingga tangannya benar-benar menyentuh dinding Ka’bah. Ia sendiri terkejut, seolah alam semesta menyambut keberaniannya yang baru muncul di tengah keraguan. Ini bukan hanya soal keberuntungan, tapi tentang menyerahkan diri dan percaya pada kemungkinan baik.
Hal serupa dialami publik figur Risty Tagor. Mengutip fimela.com, dalam salah satu pengalamannya, ia duduk santai memperhatikan orang di sekelilingnya. Ketika melihat seseorang makan jeruk, ia hanya bergumam ingin tahu dari mana asal jeruk itu. Tak lama, seseorang datang membawa tas berisi camilan dan berkata, “Ini buat Mbak Risty ya.” Ketika ia bertanya dalam hati tentang plastik batu jumrah, orang lain datang dan berkata, “Mbak, ini saya ambilin tadi buat Mbak.” Apa yang terjadi padanya bukan sekadar kebetulan. Itulah manifestasi dari energi pikiran yang tulus--apa yang kamu pikirkan, kamu pancarkan, dan akhirnya kamu tarik ke dalam hidupmu.
Fenomena ini mirip dengan Red Car Theory. Melansir dari narasi.tv, teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Stanley Coren dalam bukunya Sensation and Perception (1972). Konsep ini menjelaskan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan untuk lebih menyadari sesuatu setelah kita mulai memberi perhatian pada hal tersebut. Misalnya, saat seseorang baru membeli mobil merah, ia akan merasa seolah-olah mobil merah jadi lebih sering muncul di jalan--padahal jumlahnya tidak bertambah, hanya kesadarannya yang berubah.
Hal yang sama berlaku dalam hidup, ketika kita mulai memusatkan perhatian pada hal-hal baik, maka kebaikan itu akan lebih mudah terlihat, lebih sering muncul, dan terasa lebih dekat. Ini bukan soal keberuntungan atau hal misterius, tetapi soal bagaimana pikiran kita menyaring dan memaknai realitas. Di Makkah, dalam suasana yang penuh tantangan sekaligus harapan, kemampuan untuk melihat kebaikan bukan lagi sekadar sikap, melainkan menjadi kebutuhan untuk bertahan secara mental dan spiritual.
Apa yang Sebenarnya Kita Bawa Pulang?
Dalam konteks ibadah haji yang begitu padat dan melelahkan, pikiran negatif mudah sekali muncul seperti capek, antre, kepanasan, bahkan konflik kecil antarjemaah. Namun, mereka yang mampu bertahan secara mental adalah mereka yang memegang teguh pikiran jernih dan prasangka baik. Karena ternyata, ujian terbesar di Makkah bukan hanya stamina, tapi seberapa kuat seseorang menjaga pikirannya agar tetap bersih dan sabar.
Lalu, apa yang bisa kita bawa pulang dari Makkah selain oleh-oleh, foto, dan cerita? Mungkin jawabannya adalah kemampuan untuk tetap memilih sisi baik dalam situasi paling berat. Di tengah dunia yang semakin bising dan sering memicu stres, pelajaran terbesar dari tanah suci justru sangat sederhana: berpikir baik, bersangka baik, dan bertindak baik, bahkan ketika situasinya tidak mudah.
Karena sesungguhnya, Makkah bukan hanya tempat kita berdoa kepada Allah, tapi tempat kita menguji apakah kita sudah memperlakukan diri sendiri dan orang lain dengan baik pula. Dan ketika pulang, ujian itu belum selesai, ia hanya berubah wujud. Tapi bekalnya tetap sama: berpikir positif dan berserah diri.
Tulisan ini telah dimuat sebelumnya di media daring Teropongnews.com pada Rabu, 11 Juni 2025.

0 Komentar